8/29/2018

CONTOH : PTK IPS SMP KETERAMPILAN ABAD 21

CONTOH : PTK IPS SMP KETERAMPILAN ABAD 21

PENERAPAN METODE “KUPER”  BERBANTUAN MEDIA” KAVIS” UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS
DOWNLOAD PTK IPS SMP

Romulus Butarbutar,S.Pd
SMP NEGERI 1 SITELLU TALI URANG JULU , PAKPAK BHARAT-SUMUT

ABSTRAK

Pada kegiatan belajar pada mata pelajaran IPS khususnya materi  dengan tema sejarah ditemukan banyak siswa yang kurang berminat dengan materi pelajaran, dan ditemukan siswa yang mengantuk pada saat guru menyampaikan materi sehingga hasil belajar siswa yang tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) mencapai 70 %. Rendahnya siswa yang lulus kkm dipengaruhi oleh rendahnya minat belajar siswa terhadap materi tema sejarah  dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu 1).Guru masih menggunakan metode ceramah (teacher center ), siswa hanya sebatas  mendengarkan ceramah guru, 2). Guru belum melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, 3). Belum menggunakan media pembelajaran yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode “KUPER” berbantuan media “KAVIS” dapat meningkatkan hasil belajar siswa?, dan untuk mengetahui bagaimana metode "KUPER” berbantuan media “KAVIS” dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Metode yang dipergunakan yaitu metode kualitatif dengan subjek penelitian adalah kelas VIII.1 berjumlah 27 orang. Metode pengumpulan data melalui pengamatan dan test. Dari hasil test yang dilakukan setelah penerapan metode diskusi dan bermain peran (Kuper) berbantuan media kamera dan audio visual (Kavis) mengalami peningkatan hasil belajar menjadi 75 % siswa lulus kkm pada siklus I dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 86 % dan dari hasil pengamatan tidak ditemukan siswa yang mengantuk karena begitu antusias dan bahagia melakukan diskusi dan seluruh siswa gembira ikut bermain peran memerankan karakter  masing-masing sesuai dengan materi yaitu materi perlawanan dari berbagai daerah melawan kolonialisme dan imperialisme barat di Indonesia.

Kata Kunci : Metode Kuper, Media, Hasil Belajar




Pendahuluan

      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) suatua kurikulum yang akan menjadi kenangan  dan menjadi catatan sejarah dalam dunia pendidikan sebagai kurikulum yang pernah berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan secara bertahap berganti dengan kurikulum 2013, namun sebagian sekolah di Indonesia masih menerapkan KTSP, termasuk sekolah tempat penulis   mengajar untuk kelas VIII (delapan) dan kelas IX (Sembilan) masih menerapkan KTSP.  Dalam KTSP untuk mata pelajaran IPS  tingkat SMP  adalah perpaduan dari beberapa cabang ilmu sosial yaitu geografi, sejarah, ekonomi dan sosiologi. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya ( Brahim, 2010:6) bermaksud bahwa IPS tersebut tidak diajarkan secara terspisah walaupun dalam kenyataan dilapangan bahwa guru IPS masih mengajarkannya belum terpadu.
      Guru yang mengajarkan IPS di SMP umumnya bukan berlatar belakang pendidikan sarjana guru IPS, namun kebanyakan adalah sarjana pendidikan jurusan sejarah, ekonomi, geografi atau sosiologi. Sebagai sarjana pendidikan ekonomi akuntansi misalnya akan menemukan sedikit hambatan bagaimana metode mengajarkan materi sejarah agar mudah dipahami oleh siswa. Perlu adanya usaha yang kuat dari seorang guru untuk menemukan, mempelajari dan menerapkan metode yang sesuai untuk mengajarkan IPS khususnya materi yang berhubungan dengan sejarah. Metode  sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (Kemdikbud, 2017:9). Dengan pemilihan kesesuaian metode dengan materi akan membuka pintu tujuan pembelajaran tercapai. Banyak siswa didapati ketika materi yang berhubungan dengan sejarah mengantuk dan diam terpaku seperti kembali ke masa kejadian masa lampau. Ketika guru melakukan ceramah maka siswa dengan duduk manis mendengarkan cerita guru. Siswa merasa materi sejarah kurang bisa membawa mereka kedalam peristiwa sejarah. Metode ceramah tidak banyak menyediakan ruang bagi siswa agar ikut ambil bagian. Kurangnya perbendaharaan guru mengenai metode pembelajaran merupakan kendala untuk mengajarkan materi yang berhubungan dengan sejarah salah satu faktor siswa mudah bosan mendengarkan materi itu. Tujuan pembelajaran yang direncanakan akan digapai, mengikat erat dengan metode  yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran.  
      Kegiatan belajar bukanlah semata-mata menyampaikan materi pelajaran. Proses belajar hendaknya mengubah cara pandang dan pemahaman setiap siswa dan mampu memiliki empati mengenai perjuangan masa lampau. Setiap mata pelajaran memiliki sasaran dampak yang akan dicapai, Ilmu Pengetahuan Sosial mengandung salah satu tujuan  agar peserta didik memiliki kemampuan komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan ( Brahim,2010:6) dengan demikian hendaknya setelah pembelajaran IPS ada suatu rasa yang mebelenggu siswa atas kejadian tersebut sehingga ada minat lebih dalam lagi mau menggalinya.
      Banyak orang beranggapan apabila mudah dalam menghapal maka akan mudah untuk memahami dan menguasai ilmu sosial, dalam kenyataannya bahwa IPS bukan hanya semata untuk mengingat tetapi hendaknya dengan mempelajari IPS  akan menetaskan bagaimana menemukan solusi dalam sebuah benturan dalam kehidupan sosial. Banyak ditemukan siswa yang tidak suka hafalan akan pertama apatis dalam mengikuti pelajaran IPS.
      Faktor-faktor yang mengakibatkan kurang berhasilnya proses pembelajaran IPS berdampak terhadap hasil belajar siswa. Perlu beberapa upaya kuat dan motivasi besar guru bagaimana masalah-masalah seperti yang ditemukan diatas bisa dirubah menjadi potensi untuk masa yang akan datang. Waktu terus berlari dan tidak untuk kembali, kemajuan teknologi ikut berlari beriringan dengan waktu. Sudah masanya guru mengikat kegiatan belajar mengajar dengan teknologi menjadi barang komplementer agar beriringan dengan keinginan siswa pada era teknologi. Guru masih banyak ditemukan belum berdamai dengan teknologi dalam melaksanakan profesinya, hal ini diperhadapkan dengan keadaan siswa yang tidak bisa lepas dari kemajuan teknologi khususnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Apabila guru belum mampu berdamai dan bersahabat dengan teknologi maka pembelajaran akan sulit diterima oleh siswa. Ibarat pedagang harus bisa melihat pangsa pasar agar memenangkan persaingan usaha, begitu juga dengan guru harus bisa berlari dengan kemajuan teknologi dengan memperhatikan dampak positif dan meminimalkan dampak negatifnya, teknologi harus dikawinkan dengan proses pembelajaran.
      SMP Negeri 1 Sitellu Tali Urang Julu sebuah lingkungan sekolah yang asri, taman belajar bagi siswa yang  berlatar belakang anak petani, siang sepulang dari sekolah akan diminta orangtua agar menyusul keladang untuk membantu mengolah lahan pertanian. Ketika matahari terbenam akan kembali beraktifitas untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah temasuk mengerjakan tugas yang diberikan dari sekolah. Terbayang dalam pikiran, raga yang sudah letih untuk melanjutkan pelajaran dirumah untuk besok datang kesekolah melanjutkan investasi yang akan dituai pada masanya.
      Berdasarkan uraian diatas, maka identifikasi masalah adalah : 1). Mengapa hasil belajar yang dicapai siswa sangat rendah; 2). Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan penerapan metode “Kuper” berbantuan media “Kavis”?.
      Rumusan masalah dalam karya tulis ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS melalui penerapan metode “Kuper” berbantuan media “Kavis’ ?.
      Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan metode “Kuper” berbantuan media “Kavis” pada mata pelajaran IPS.

Metode
      Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas model Kurt Lewin, yang dilakukan sebanyak 2 siklus masing-masing siklus 3 dan 2 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan 4 (empat) tahapan yaitu 1). Melakukan perencanaan; 2). Melakukan tindakan dari apa yang direncanakan; 3). Melakukan pengamatan; 4). Melakukan refleksi.
a.       Tahapan Perencanaan
Sebelum melakukan tindakan perlu dibuat perencanaan yang matang agar hasil yang diharapkan sesuai dengan kenyataan. Pada tahapanan ini penulis mempersiapkan instrument, rencana pelaksanaan pembelajaran yang selanjutnya disingkat dengan RPP. RPP yang dibuat telah disetujui Kepala Sekolah dan membahasnya dengan teman sejawat yaitu guru IPS. Materi yang dibahas adalah perlawanan rakyat dari berbagai daerah menentang kolonialisme dan imperialism barat di Indonesia.  Pada tahapan ini perlu dipersiapkan kamera, infokus, laptop, speaker yang akan dipakai pada saat pembelajaran.
b.      Tahapan Tindakan
Skenario pembelajaran pertama dilakukan dengan membagi siswa menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 7-8 orang setiap kelompok, dalam pemilihan anggota kelompok bersifat adil tanpa melihat jenis kelamin, sara, dan tingkat kepandaian. Kemudian guru menuliskan di kertas kecil nama-nama bentuk perlawanan dari setiap daerah yang terdiri dari 4 perlawanan, masing-masing pemimpin kelompok mengambil kertas kecil secara acak. Setiap kelompok diberi nama sesuai nama pemimpin perlawanan, contohnya apabila materi yang didiskusikan dan diperankan (Kuper)  perang Tapanuli maka nama kelompoknya adalah kelompok Sisingamangaraja. Kelompok yang sudah dibentuk melakukan diskusi untuk membuat skenario perlawanan, membagi peran masing-masing anggota, melatih peran masing-masing sesuai tokoh yang ada dalam perlawanan. Setelah dilatih perannya setiap kelompok memerankan bagaimana jalanya perlawanan dari daerah dan kelompok yang lain yang merekam permainan peran berbantuan kamera, kelompok yang lain memerhatikan jalan cerita dari yang ditampilkan, kemudian pertemuan berikutnya akan ditayangkan didalam kelas melalui bantuan kamera dan audio visual (Kavis), kelompok lain mengajukan pertanyaan terhadap apa yang ditampilkan, begitu bergantian sampai semua kelompok mendapat giliran.
c.       Tahapan pengamatan
Pengamatan dilakukan pada saat siswa melakukan diskusi dan bermain peran melalui daftar yang sudah disediakan serta dari hasil rekaman bermain peran.
d.      Tahapan refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan dengan memutar kembali video dari siswa bersama dengan guru IPS untuk memberikan masukan mengenai kegiatan pembelajaran.
      Siswa Kelas VIII.1 SMP Negeri 1 Sitellu Tali Urang Julu berjumlah 29 orang merupakan subjek dari penelitian sedangkan objeknya adalah metode diskusi dan bermain peran serta media kamera dan video.
      Tekhnik pengumpulan data yaitu test tertulis dan pengamatan dan teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif komparatif yaitu melakukan perbandingan nilai hasil ujian kondisi sebelum dilakukan penelitian dengan nilai hasil ujian seteleah dilakukan penelitian kemudian dilakukan refleksi terhadapa apa yang sudah diperoleh dan selanjutnya dilakukan analisis data dengan deskriptif kualitatif.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan
Gambaran Kondisi Awal
      Rendahnya minat belajar siswa cukup dipertunjukkan secara nyata dari kegiatan belajar mengajar, ditemukan siswa mengantuk, menghayal dan belum memberikan kontribusi pembelajaran dikala guru mengajar dengan metode ceramah berhubungan dengan tema sejarah. Suatu keadaan yang bukan baik yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, ditemukannya siswa yang tidak tuntas mencapai 70 persen dengan nilai kkm 75.
      Guru ibarat pemanah yang akan melepaskan mata panah kearah sasaran, guru harus mau dengan cepat mengubah metode pembelajaran. Menurut Hollingswort dan Lewis ( 2008:32) membuat siswa mengubah aktivitas duduk yang tenang ke aktivitas yang melibatkan gerakan akan menjaga kesiagaan mentalnya. Pembelajaran seharusnya memfungsikan raga agar tercipta kehidupan belajar. Metode ceramah dalam menjelaskan tema sejarah menciptakan siswa pendengar yang duduk manis ditempat yang memerlukan konsentrasi untuk mendengar yang berpengaruh kegiatan yang monoton yang menciptakan situasi mengantuk dan menghayalkan bagaimana sebuah alur kejadian terjadi. Metode ceramah satu arah dipergunakan guru untuk mengajarkan materi yang berhubungan dengan sejarah. Belum digunakan metode diskusi dan bermain peran (Kuper), serta media kamera dan audio visual belum dipergunakan membantu cepatnya materi dipahami siswa.
Gambaran Siklus I (Pertama)
a.      Tahap Perencanaan
      Mempersiapkan instrument pengamatan (kuisioner), melakukan pengecekan terhadap kelayakan kamera dalam hal ini yang dipergunakan adalah telepon selular guru yang memilik resolusi gambar 14 megapixel, infocus, speaker, dan laptop. Pembuatan RPP dan mempersiapkan kertas kecil sebnayak 4 potongan yang didalamnya sudah ditulis nama-nama bentuk perlawana dari berbagai daerah melawan kolonialisme dan imperialism barat di Indoensia. Membuat butir soal dan kunci jawaban.
b.      Tahap Pelaksanaan
      Pelaksanaan pertama dilaksanakan pada tanggal 7 September 2016, pada pertemuan pertama dilaksanakan dengan diawali dengan kegiatan pendahuluan 5 menit, melakukan salam, mengecek kebersihan kelas, mengecek kehadiran siswa dan melakukan pertanyaan prasyarat yaitu apakah kalian suka sejarah ?, kemudian guru mengungkapakan kita akan membuat suasana belajar tema sejarah yaitu materi perlawanan dari berbagai daerah dengan cara yang berbeda, kita akan mebuat lebih bergairah mengetahui dengan baik tokoh-tokoh yang kalian bahas, dan kita akan berdiskusi dan memainkan peran masing-masing to
koh yang ada dalam sejarah tersebut, dengan cara merekam permainan peran tersebut dan kemudian akan kita tonton bersama. Dengan mendengar pernyataan ini siswa sudah mulai memberikan pendapatnya masing-masing. Ini terbukti mereka tidak lagi duduk tetapi sudah meanfaatkan seluruh raga dan mulai gelisah dan aktif peran apa yang akan didapatkan. Dengan skenario pembelajaran bermain peran siswa siswa tidak hanya belajar fakta sejarah, juga bisa mengerti dan mengingatnya untuk waktu yang lama (Hollingswort dan Lewis, 2008:32). Pada umumnya kalau seseorang melihat suatu peristiwa didepan mata akan lebih mudah menceritakannya kembali dibandingkan mendengar dari teman dan kemudian menceritkan ulang. Setelah kegiatan pendahuluan maka masuk pada kegiatan inti dengan membentuk kelompok menjadi 4 kelompok, kelompok I,II,III masing-masing beranggotan 7 orang dan kelompok IV beranggotak 8 orang. Pembagian kelompok secara adil dan setiap kelompok diberi nama sesuai pemimpin perlawanan daerah. Kelompok diskusi terbentuk maka siswa diajak keluar kelas yaitu ke taman dengan membawa buku yang menjadi sumber pelajaran dan alat tulis, siswa melakukan diskusi untuk membuat skenario perang dan membagi peran sesuai dengan karakter masing-masing, materi pembelajaran disampaikan dengan cara bermain peran (acting) dan berdialog, waktu diskusi diberi waktu 60 menit, sekaligus pembuatan skenario perlawanan dan pembagian karakter sesuai dengan apa yang terjadi berdasarkan kenyataan dalam sejarah. Kemudian 15 menit diberikan sesi tanya jawab apa yang belum dipahami dari sejarah perlawanan rakyat serta secara bersama-sama menyimpulkan dari hasil diskusi. Kemudian pemberian tugas yaitu untuk berlatih diluar jam pelajaran atau belajar mandiri untuk memainkan peran  masing-masing untuk ditampilkan pada pertemuan berikutnya.
    Pada pertemuan kedua, kegiatan pendahuluan diawali dengan doa dan salam  kemudian menanyakan bagaimana pengalaman belajar selama diskusi dan latihan bermain peran. Pada kegiatan inti ditampilkan hasil bermain peran yang sudah dilatih dirumah berbantuan kamera, permainan peran divideokan, kelompok yang tidak tampil memberikan perhatian terhadap penampil agar apa yang tidak dipahami bisa ditanyakan, begitu secara bergantian. Durasi yang diberikan untuk menjelaskan materi melalui dialog dan bermain peran yaitu 8 menit setiap kelompok. Pada kegiatan penutup guru bersama dengan siswa menyimpulkan pelajaran dan guru memberikan tugas.
    Pada pertemuan ketiga, pada kegiatan pendahuluan siswa diberikan kesempatan untuk menyanyikan lagu Bagun Pemudi-Pemuda, untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Kemudian mempersiapkan peralatan yang diperlukan yaitu infokus, laptop, speaker,  kamera perekam, kabel data, untuk menayangkan hasil permainan peran setiap kelompok. Pada kegiatan inti, guru menanyangkan video, dari pengamatan penulis ketika video ditayangkan banyak yang tersenyum dan tertawa mempesona karena melihat diri sendiri sebagai aktor dalam permainan perang melawan kolonialisme, suatu hal yang tidak kelihatan adalah jiwa-jiwa yang mengantuk. Setelah video ditayangkan maka kelompok yang lain memberi pertanyaan, tanggapan mengenai video yang ditayangkan bergitu secara bergantian. Pada kegiatan penutup guru memberikan tugas dan mengumumkan pelaksanaan test untuk pertemuan siklus pertama.
c.       Tahap pengamatan
1.      Pengamatan dilakukan pada saat diskusi yaitu Kolaborasi antar anggota, terlibat aktif;
2.      Pada saat bermain peran yaitu semua siswa ikut ambil bagian dalam berperan, sesuai dengan waktu yang ditentukan, penonton terhibur, sesuai dengan fakta sejarah.
d.      Tahap Refleksi
1.      Siswa sebagian besar sudah terlibat dalam kelompok;
2.      Setiap siswa mendapatkan peran, walau masih berperan sebagai pasukan Belanda atau Indonesia, peran pelengkap;
3.      Masih ditemukan siswa yang ketawa, karena belum biasa memainkan sebuah peran.
Gambaran Siklus II (Kedua)
a.      Tahap Perencanaan
      Siklus kedua direncanakan sebanyak 2 kali pertemuan dengan jumlah siswa tetap, dengan pokok materi yang sama yaitu bentuk perlawanan dari berbagai daerah namun berbeda daerah dengan siklus I (pertama). Proses pembelajaran tetap menerapkan metode diskusi dan bermain peran (Kuper) berbantuan dengan kamera dan audio visual (Kavis). Namun pada siklus sebelumnya sudah terlebih dahulu dibagi nama perlawanan setiap kelompok untuk dibahas diluar jam pelajaran, ketika disekolah tinggal pemantapan.
b.      Tahap Pelaksanaan
      Pelaksanaan dilaksanakan sesuai dengan RPP, sama halnya dengan pelaksanaan pada siklus pertama. Namun pada siklus kedua pada tahap ini bentuk perlawanan sudah diberitahu sebelumnya dan sudah dipersiapkan diluar jam pelajaran atau sepulang sekolah. Kegiatan inti tinggal bermain peran dan pertemuan kedua menayangkan video dan melakukan diskusi bervariasi, guru berperan sebagai fasiliator.
c.       Tahap Pengamatan
      Pengamatan pada siklus kedua sama dengan siklus pertama, pada siklus ini dari hasil pengamatan tidak ditemukan siswa yang tertawa pada saat memerankan karakternya dan penguasaan peran, penjiwaan sudah lebih baik dibanding dengan siklus pertama.
d.      Tahap Refleksi
      Ketika bermain peran, siswa sudah menjiwai perannya sebagai pahlawan, memiliki kebanggan bisa memerankan tokoh idolanya.
      Dengan penerapan metode diskusi dan bermain peran (Kuper) berbantuan media kamera dan audio visual (Kavis) untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi bentuk-bentuk perlawanan dari berbagai daerah melawan kolonialisme dan imperialism barat di Indonesia diperoleh siswa yang memiliki rasa empati tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah, dengan dimainkannya peran sebagai pemimpin perlawanan, maka siswa akan mengingat dengan waktu yang cukup lama bagaimana sakit dan jatuhnya melawan penjajah. Berikut digambarkan hasil dari siklus I dan siklus II:

Tabel 1: Data Hasil Belajar, Pengamatan Kegiatan Diskusi dan Bermain peran pada siklus I
No
Nama
Kelompok
Hasil Test
Lulus KKM
Diskusi
Bermain Peran
Kolaborasi kelompok             ( 1=Perlu Perbaikan, 2=cukup, 3=baik, 4=sangat baik)
Terlibat aktif
Setiap anggota berperan
Sesuai dengan fakta sejarah
Kreatif/Menarik
Tepat Waktu
1
Sisingamangaraja
( 7 orang)
5
3
6
7
Ya
Ya
Ya
2
Diponegoro
(7 orang)
5
3
6
7
Ya
Ya
Ya
3
Imam Bonjol
(7 orang)
6
3
7
7
Ya
Tidak
Ya
4
T.Umar
(8 orang)
6
3
8
8
Ya
Ya
Tidak
Jumlah
22
12
27
29
4
3
3
Persentase
75 %
75 %
93 %
100 %
100 %
75 %
75%
Rata-rata
84 %

Tabel 2: Data Hasil Belajar, Pengamatan Kegiatan Diskusi dan Bermain peran pada siklus II
No
Nama
Kelompok
Hasil Test
Lulus KKM
Diskusi
Bermain Peran
Kolaborasi kelompok      ( 1=Perlu Perbaikan, 2=cukup, 3=baik, 4=sangat baik)
Terlibat aktif
Setiap anggota berperan
Sesuai dengan fakta sejarah
Kreatif/Menarik
Tepat Waktu
1
Pattimura
( 7 orang)
6
4
7
7
Ya
Ya
Ya
2
Hasanuddin
(7 orang)
6
4
7
7
Ya
Ya
Ya
3
P.Antasari
(7 orang)
6
4
7
7
Ya
Ya
Ya
4
Cik Ditiro
(8 orang)
7
3
8
8
Ya
Ya
Tidak
Jumlah
25
11
27
29
4
4
3
Persentase
86 %
91 %
100 %
100 %
100 %
100 %
75%
Rata-rata
93  %



Tabel 3: Rekapitulasi Data Hasil Belajar, Pengamatan pada siklus I,II
No
Siklus
Hasil Test
Lulus KKM
Diskusi
Bermain Peran
Kolaborasi kelompok      ( 1=Perlu Perbaikan, 2=cukup, 3=baik, 4=sangat baik)
Terlibat aktif
Setiap anggota berperan
Sesuai dengan fakta sejarah
Kreatif/Menarik
Tepat Waktu
1
Siklus I
75 %
75 %
93 %
100 %
100 %
75 %
75%
2
Siklus II
86 %
91 %
100 %
100 %
100 %
100 %
75 %
CONTOH : PTK IPS SMP KETERAMPILAN ABAD 21


      Sebelum penelitian tindakan  dilakukan metode pembelajaran yang dipergunakan adalah metode ceramah, kelemahan dari metode ini sudah dijelaskan di atas. Pada proses pembelajaran kondisi awal masih banyak ditemukan siswa mengantuk sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar dimana siswa banyak tidak lulus kkm menapai 70 %, setelah diterapkannya metode diskusi dan bermain peran (Kuper) berbantuan media kamera dan audio visual (Kavis) dari hasil tabel 3, sudah tidak ditemukam siswa mengantuk karena sudak melakukan kolaborasi dalam diskusi serta terlibat aktif, dari keadaan sebelumnya ke kondisi akhir terjadi pastisipasi siswa yang meningkat. Kegiatan belajar jadi hidup dengan adanya metode diskusi karena menggerakkan pikiran dan raga. Dengan penerapan metode diskusi dan bermain peran (kavis) dengan berbantuan media kamera dan audio visual pembelajaran menjadi aktif. Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, sikap secara mental, dan bisa memahami pengalaman yang dialami seperti yang diutarakan oleh Hollingsworth dan Lewis (2010:8). Dari pengamatan pembelajaran sudah dikategorikan pembelajaran aktif, keaktifan siswa dalam belajar berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa, dari keadaan awal keakhir terdapat kenaikan yang tidak boleh dianggap sebelah mata yaitu  dari nilai rata-rata hasil 25 % ( sebelum ada tindakan)  menjadi 86 % siswa meraih nilai diatas kkm. Hasil belajar meningkat, siswa merasakan bagaimana sesak dan perih dijajah oleh bangsa lain.

Simpulan
     Materi pelajaran IPS yang bertemakan sejarah, memerlukan metode yang jitu untuk membawa emosi siswa untuk bersimpati,empati, bahagia. Membangkitkan pastisipasi siswa sangat sulit jika menerapkan metode ceramah satu arah. Untuk itu perlu diperlukan metode diskusi dan bermain peran (Kuper) yang membuat siswa gembira, memahami makna perjuangan dari berbagai daerah berbantuan media kamera dan audio visual (Kavis), karena hal ini sangat mudah dipahami oleh siswa, dan menarik keinginan siswa untuk mempelejari lebih dahsyat mengenai sejarah.
      Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan metode diskusi dan bermain peran (kuper) berbantuan media kamera dan audio visual dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan mengembangkan partisipasi siswa sehingga tercipta pembelajaran tema sejarah yang menyenangkan, menggembirakan dalam kegiatan pembelajarn hal ini terbukti dengan hasil dari penelitian yaitu dari siklus pertama ke siklus kedua terjadi keterlibatan siswa yaitu 93 % menjadi 100 %, dan metode diskusi juga menjadikan kerjasam antar siswa meningkat dari 75 % menjadi 91 %, serta yang terutama terjadi kenaikan hasil test yaitu tingkat kelulusan kkm dari 30 % menjadi 86 %.





Daftar Pustaka
Brahim, Muh.Nur Eli. 2010. Buku Panduan Guru Mata Pelajaran IPS Terpadu untuk SMP/MTs     Kelas VIII, Semarang: Aneka Ilmu.
Hollingsworth, Lewis. 2008. Pembelajaran Aktif, Jakarta: PT.Indeks.
Kemdikbud, 2017. Model-Model Pembelajaran, Jakarta.Kemdikbud.
Kusuma, Dwitagama. 2010. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta.PT.Indeks.

CONTOH : PTK IPS SMP KETERAMPILAN ABAD 21



Artikel Terkait

1 komentar so far


EmoticonEmoticon