5/17/2020

Curahan Hati : Guru Indonesia Mengajar Dari Rumah

Curahan Hati : Guru Indonesia Mengajar Dari Rumah


"Bahwasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun" , Buya Hamka. 
Masa-masa belajar dari rumah membawa pengalaman tersendiri bagi setiap orangtua, pelajar dan guru. Belajar dari rumah bukanlan sebuah asa bagi siapapun, karena belajar dari rumah melahirkan berbagai ketidakpastian rasa dari pelakunya. Harapan setiap insan segeralah pandemi ini berakhir dan jangan pernah kembali lagi. Karena pendemi telah membatasi interaksi sosial setiap manusia. Belajar dan mengajar dari rumah bagi guru dan pelajar memiliki sisi lain yang berbeda dari biasanya. Lalu seperti apa curahan hati dari beberapa guru di Indonesia ? Berikut penulis kutip beberapa curahan hati para guru yang diterima melalui pesan WA.
pembelajaran dalam jaringan

Pembelajaran di Rumah di sekolah saya disebut PBR (Pembelajaran Berbasis Rumah). Pembelajaran di sekolah saya awalnya menggunakan WAG karena kondisi yg mendadak sehingga media WA menjadi solusi tercepat dan mudah. Tapi beberapa waktu berjalan saya mulai menggunakan aplikasi pembelajaran yang lain seperti Google Form, ZOOM, Office 365, Quizziz dan lain-lain. Penggunaan media ini pun sangat membantu dan membuat siswa termotivasi untuk belajar. Pembelajarannya pun dilakukan secara interaktif dengan penekanan ke Life Skill Education siswa. Jadi harapan saya selama pembelajaran di rumah siswa bisa lebih mengembangkan keterampilan diri siswa yang mungkin selama ini tidak dilakukan.                                                                    Gunawan, S.Pd., Gr  Guru IPS SMPIT Darul Abidin Jawa Barat (Peraih Medali Perunggu OGN 2019)
Belajar dari rumah jujur saya merasa kurang nyaman. Saya tidak bisa bertatap muka, menyapa setiap siswa. Saya tidak tahu apa yg mereka rasakan. Pengalaman nyata mereka tidak bisa saya dengar secara langsung. Intinya saya stress bangat karena harus siap membaca tugas di WA. Tugas yang masuk terkadang ada pukul  23: 00 WIB atau bahkan ada yang lewat. Saya pernah kewalahan karena ada tugas 3 orang sekaligus padahal hari belajar berbeda waktu. Mungkin ada orangtua kurang senang karena saya selalu minta nama dan kelas. Orang tua berpikir saya harus menghafal nama, kelas anaknya. Padahal saya masuk 9 kelas dan banyak nama yang sama. Handphone saya mungkin merasa lelah sehingga saya sempat was-was jangan-jangan tugas siswa sudah dikirim. Mata dan jari terasa letih karena hampir 6 jam berteman dengan angka dan huruf. Pernah saya ditelpon orangtua siswa. Apakah tugas anaknya sudah sampai ? Mengapa tidak direspon ?. Ternyata dikirim di atas pukul 23:00 WIB. Saya buat off  Luarbiasa perhatian orangtua siswa pikirku. Ternyata respons saya kata terimakasih dan Salam sehat menjadi Vitamin Semoga belajar dari rumah dalam waktu dekat lagi. Saya mau bertemu langsung dengan Siswa yang ramah, lucu, terbuka dan bersemangat. Terimakasih Salam Sehat.       Suster Bonifasia, Guru SD Swasta Santo Vinsensius Salak Pakpak Bharat Sumut
Awalnya saya merasa pembelajaran daring itu menyenangkan, dan waktunya hanya sebentar yaitu 2 minggu, tapi saya tidak menyangka bisa berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Kegiatan pembelajaran daring pada awalnya juga masih terlihat menyenangkan. Tetapi seiring berjalannya waktu, pembelajaran ini sangat membebani dan terkadang membuat saya kesal, marah, dan sebagainya. Yahhh sama seperti pembelajaran di sekolah juga seperti itu. Metode pembelajaran yang selama ini saya terapkan melalui media sosial tepatnya Grup WhatsApp. Di sana saya memberikan materi berupa Video, Audio, foto, dan sebagainya. Kemudian anak-anak mengirimkan tugasnya masing-masing melalu WA pribadi kepada saya. Dan waktunya tidak menentu, yang pasti anak-anak mengirimkan tugasnya dalam hari itu juga. Mengenai bahan ajar, saya agak kewalahan membuat sebuah video pembelajaran yang menarik untuk ditonton anak-anak.Terkadang saya menghabiskan waktu saya seharian hanya untuk membuat video pembelajaran berdurasi 3 menit saja. Mungkin sebagian orang menganggap membuatnya itu hanya butuh waktu sebentar. Bisa saja benar, kalau kita sudah profesional dalam pembuatan video bahan ajar. Berbeda dengan saya yang hanya paham sedikit-sedikit. Tapi saya selalu berusaha membuat video pembelajaran setiap hari, walaupun terkadang ada hari tertentu tidak ada saya buat karena saya rasa materinya sama saja dengan hari sebelumnya.Saya juga bersyukur, karena saya bisa memberikan pembelajaran daring dari Radio Pakpak Bharat yaitu RAPA FM 90.20. Di sana saya bisa menyapa seluruh siswa-siswi SD sekabupaten Pakpak Bharat khususkan siswa saya sendiri melalui panggilan telepon seluler. Tp walaupun begitu, pembelajaran tetap berjalan dengan baik, siswa-siswi saya juga merespon dengan baik. Walaupun rasa rindu melanda pribadi masing-masing. Penilaian tetap berjalan, seperti tugas, ujian bulanan, dan sebagainya. Hanya saja kerinduan yang tidak terobati. Saya berharap, semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lagi seperti biasanya. Karena ternyata belajar di sekolah itu jauh lebih menyenangkan dari pada belajar dari rumah. Salam rindu saya buat anak didik kelas 5 SD Swasta Santo Vinsensius Salak
Jekson Tumanggor,S.Pd. Guru SD Swasta Santo Vinsensius Salak -Sumut
Adanya pandemi ini membuat banyak kegiatan di segala sektor terjadi perubahan termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kegiatan belajar mengajar berubah dari tatap muka menjadi daring. Disinilah diperlukan sikap bagaimana mengantisipasi segala perubahan. Guru, peserta didik dan orang tua saling bekerjasama. Banyak aplikasi yang tersedia untuk mendukung kegiatan belajar mengajar ini, ada rumah belajar ( Kementrian ) SiPintar, Sekolahku ( disdik ), Google, Webex, Zoom dll mulai dari yang gratis sampai yang berbayar. Tentunya saya ambil yang gratis. Pada awal diberlakukannya daring / home learning banyak masalah yang ditemui, dari masalah sinyal, ketersediaan kuota peserta didik, kepemilikan alat yang mendukung dan kemampuan guru dan peserta didim dalam menggunakan aplikasi. Alhamdulillah semua kendala dapat teratasi. Masalah sinyal diselesaikan dengan adanya jeda waktu penyampaian & pengumpulan materi / tugas, masalah kuota diselesaikan dengan kerjasama guru / wali kelas membelikan paket kuota bagi peserta didik yang memang tidak mampu, masalah kepemilikan alat yang mendukung diselesaikan dengan memberdayakan alat yang ada lalu peserta didik mengerjakan di buku tugasnya yang akan di kumpulkan saat masuk kembali ke sekolah nanti, masalah kemampuan menggunakan aplikasi diselesaikan dengan melihat tutorial, mengikuti pelatihan sehingga bisa mengimbaskan lagi ke sesama guru dan peserta didik. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Sekarang semua harus melek teknologi informasi, mau tidak mau kita harus terus berubah mengikuti perkembangan yang ada karena tujuan pendidikan nasional harus terpenuhi. Itulah guru sejati.                                   Khuswiatun Hasanah, M.Pd. SMP N 117 Jakarta
Selama siswa belajar dirumah, karena mengajarnya dikelas 9, dan sekolah kami SMPN 1 Tarakan, pada tgl 23 Maret seluruh siswa mulai belajar dirumah dengan diberikan tugas mengerjakan soal-soal latihan USBN dan kisi-kisi soal US yang sudah diagendakan pada tanggal 01 April sd 14 April 2020 dan UNBK, dijadwalkan tgl 20 sd 23 April 2020. Seiring waktu berjalan perkembangan wabah Covid 19 semakin tdk terkendali, sehingga apa yang direncanakan oleh guru mapel terkendala. Sehingga menuntut guru harus kreatif untuk menggantikan nilai US dan UNBK yang dihapuskan oleh Kemdikbud. Penugasan utk siswa belajar dirumah dengan Aplikasi Google Drive. Dimana aplikasi ini membantu guru dalam memberikan tugas dan tes yang diberikan ke siswa. guru bisa melihat jumlah siswa yang berpartisipasi dalam tugas tersebut, nilainya langsung bisa dilihat. Kendalanya siswa yang tidak memiliki fasilitas pendukung, ekonomi terbatas. akan mengalami kesulitan dalam mengerjakan dan menyerahkan tugas, pada saat pemerintah menerapkan PSBB di Kota Tarakan Kaltara. Demikian sedikit pengalaman yang bisa saya share, Salam untuk semua.
Johansyah, M. Pd Guru IPS di SMPN 1 Tarakan Kalimantan Utara
Masa pandemi sudah 2 bulan, sangat merindukan pembelajaran sebagai rutinitas seperti biasanya akhirnya program pembelajaran pun sedikit terhambat. Sebagai solusinya, sekolah sepakat untuk membuka kelas daring menggunakan aplikasi Whatsapp. Penuh pertimbangan sebenarnya mengingat situasi dan kondisi ekonomi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu jadi gadget menjadi barang lux bagi mereka.Wajar saja kehadiran siswa dalam pembelajaran hanya rata-rata 10%- 20% saja. Sebagian siswa yang tidak punya gadget akhirnya datang ke sekolah untuk mendapatkan info pembelajaran dan mengantarkan tugasnya dengan mengikuti protokol kesehatan. Sebagian lagi tidak dapat sama sekali. Entah kapan berakhirnya situasi ini agar pembelajaran yang merata dapat diterapkan.
Marlinang Sihite,S.Si. SMP Negeri 1 STTU JEHE Pakpak Bharat Sumatera Utara
Mengajar dari rumah, saya mengajar mata pelaran agama Islam, maka lebih menitik beratkan pada ibadah anak-anak, terutama karena bulan puasa. Untuk kurikulum banyak yang tidak terlaksana, apalagi di kelas rendah. Jadi strategi saya untuk kelas rendah.anak-anak memberi laporan pada kegiatan ibadahnya karena ada beberapa materi yang terkait dengan kegiatan Ramadhan. Sementara untuk kelas tinggi anak-anak saya minta mendalami materi sendiri, kemudian saya pake quizziz untuk lihat penguasaan materinya.
Wahidah akmal, MPdI. SD INPRES 95/96 BANGUN REJO TANJUNG MORAWA-Sumut
Pandemi Covid-19 tahun 2020, Awalnya sangat susah ,,apalagi saya dengan usia 45 tahun utk menguasai IT sangatlah susah. Di musim covid 19 ini saya yang belajar terlebih dahulu memgenai aplikasi Classroom, zoom dan e-learning. Setelah saya pelajari yang lebih saya pilih mana yg aplikasi paling mudah , dan classroom lah yang saya gunakan. Di aplikasi classroom masih banyak kendala yang saya hadapi. Setelah 2 minggu berlangsung saya masih sering memandu siswa dalam penggunaan aplikasi ini .Sambil membagi materi . Tapi lama kelamaan siswa makin pandai ,begitu pula dengan saya gurunya , dengan belajar jarak jauh banyak ilmu yg saya dapatkan ,,,dan terakhir saya sudah bisa buat vidio dan foster ,ini saya terapkan juga sama anak anak didik saya ,,alhamdulillah mereka sambut dengan gembira . Kelemahan yang saya dapatkan dari pelajaran jarak jauh adalah dalam ujian dan .menjawab soal ,masih saya temui siswa yg langsung copy paste ,, dan nyontek punya teman ,namum hal ini sebagai tanrtangan buat saya utk terus belajar ,bagaimana cara agar siswa tidak lagi. Doyan copy paste an nyontek punya teman.
Ernawati Piliang SMA N 7 Padangsidimpuan dan SMA S Nurul Ilmi Padangsidimpuan
Belajar dari rumah membawa sejuta kenangan bagi guru dan siswa, biarkanlah bumi cepat memulihkan dirinya dan episode pandemi segera berakhir. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi cukup membantu dalam  kegiatan belajar dirumah namun tidak dapat menggantikan peran guru dalam pendidikan. Curahan Hati : Guru Indonesia Mengajar Dari Rumah

Artikel Terkait

1 komentar so far


EmoticonEmoticon