5/30/2020

IRONI : "KETIKA PUBLIK MENCIBIR GURU"

IRONI : "KETIKA PUBLIK MENCIBIR GURU"

Masih segar dalam ingatan, bagaimana dulu ketika sekolah ditutup karena wabah covid-19, pendidik dan peserta didik dirumahkan, publik mecibir pendidik dengan mengatakan enak-enak diam di rumah, makan gaji buta, dan lain sebagainya. Seiring dengan berputarnya waktu, mereka melihat kerja keras para pendidik dalam mencari solusi bagaimana cara agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik walaupun sekolah diliburkan. Nyata di penglihatan mereka bahwa para pendidik tidak kehabisan akal untuk menyiasati terhalangnya proses pembelajaran akibat wabah covid-19. Ada yang memanfaatkan teknologi dan jaringan internet seperti FB, wa, email, classroom, dan masih banyak lagi. Lalu, untuk peserta didik yang tidak memiliki fasilitas internet, para pendidik tidak habis akal untuk mengatasinya. Bila perlu, mereka rela mendatangi anak didiknya ke rumahnya masing-masing untuk menyampaikan materi pelajaran, tugas dan latihan, serta menagih hasil kerja anak didiknya.
KELUHAN GURU

Publik yang "nyinyir" tadi menyaksikan sendiri betapa para pendidik relatif sukses mengatasi masalah yang timbul akibat wabah covid-19. Belum lagi para pendidik yang memiliki anak yang masih berusia sekolah di rumah, harus pandai-pandai mengatur dan membagi waktu untuk mengajari anak didiknya dan mengajari anak kandungnya juga.

Kini, ketika media mewacanakan pembukaan kembali sekolah-sekolah, publik yang "nyinyir" tadi sudah terlanjur nyaman dengan pembelajaran on line di rumah. Mereka melihat sendiri bahwa para pendidik mampu mengatasi masalah tanpa masalah. 
Mereka sadar bahwa para pendidik itu tidak enak-enak di rumah. Sehingga mereka bersorak kembali dengan lantang, bahwa mereka belum bersedia mengizinkan anak-anaknya kembali ke sekolah.
Biar belajar di rumah saja dulu.
Katanya.
Ironis, ya ???

Artikel Terkait

1 komentar so far

Seperti itulah memang nasib kita tenaga pendidik,selalu dinilai oleh publik dgn sesuka hatinya,anaknya yg malas yg disalahkan??anaknya bodoh yg di salahkan? Sabar pak semangat kita akan tetap bergelora.


EmoticonEmoticon